Ayah,,, Ingatkah?
Inilah Malaikat Kecilmu
Dulu
Oleh: Beauty Fithri
Ramadhani
Delapan belas tahun, tidak terasa engkau telah meninggalkanku, Ayah.
Meninggalkan anak dan istrimu disini
tanpamu. Aku yang dikala itu masih berusia 1 tahun, yang masih membutuhkan
kasih sayang seorang ibu dan ayah. Namun, kenyataannya berbeda, hanya ibu yang
ada disisiku. Kalian berpisah, di saat aku belum mengetahui banyak hal. Mungkin
mulai belajar berbicara, itu pun belum jelas.
Saat usia 5 tahun, aku memasuki Taman Kanak-kanak. Disitu
aku mulai mengenal huruf, membaca, dan menulis. Bahkan mulai mengenal guru, teman-temanku
dan lingkungan sekolah. Sebelumnya aku hanya mengenal lingkungan keluarga, itu
pun tanpa Ayah. Ayah juga tidak pernah sekalipun menemuiku. Hingga kini aku
sudah mengenal kehidupan di luar keluarga, itu pun masih tanpa sesosok Ayah.
Selanjutnya aku bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah di desa
tempat tinggalku. Inilah tempat yang mengenalkanku pada aturan-aturan. Di
sekolah ini yang mengenalkanku untuk mematuhi aturan yang ada, seperti harus
memakai seragam, masuk ke kelas tepat waktu, dan mengikuti kegiatan belajar
disana. Dan mengajariku tanggung jawab, dari piket kelas hingga menjadikanku
ketua kelas. Banyak cerita selama enam tahun di sekolah ini. Ada satu yang
membuatku tidak nyaman pada masa ini, yaitu ketidakhadiran Ayah. Sempat ada difikiranku
untuk iri kepada teman-teman yang bisa merasakan kasih sayang seorang ayah. Mereka
saling bercerita tentang keluarganya di rumah. Aku malu pada mereka karena aku
tidak pernah merasakan kasih sayang ayah. Aku sangat tidak suka apabila ada
yang membahas tentang ayah.
Pagi itu, ketika akan ada pengambilan hasil ulangan semester di sekolah.
Teman sebangku bertanya kepadaku, “Siapa nanti yang mengambil rapormu?.”
“Paman, kamu siapa?” kataku. “Nanti ayahku yang hadir,” jawabnya. “Oh”, kataku
singkat sambil terfikir di dalam hati bahwa sungguh mustahil ayahku pergi
menghadiri undangan sekolah. Namun rasa malu dan masalah-masalah lainnya tidak
akan menghambat untuk menjadi juara kelas. Faktor itu yang membuatku lebih
tertarik untuk berfokus pada pelajaran sekolah daripada memikirkan sesuatu yang
membuatku sedih. Karena aku tidak ingin menjadi siswa yang bermasalah, sebisa
mungkin aku tidak melanggar tata tertib di sekolah. Semua tugas sekolah harus
sudah terselesaikan, agar aku merasa tenang dan lancar saat mengikuti pelajaran
di sekolah. Dan akhirnya kerja kerasku tidak sia-sia, aku berturut-turut
menjadi juara kelas.
Keberhasilan selama ini juga karena usaha dan doa dari
ibuku. Dia adalah wanita paling terhebat di hidupku. Wanita yang paling sabar,
tegar, pantang menyerah, dan lembut hatinya. Dia mampu menjadikanku seperti
sekarang ini. Meskipun tanpa suami disisi, dia mampu membimbingku, mencari
nafkah untuk kehidupanku. Gaji dari profesi ibu yang menjadi guru di salah satu
Taman-Kanak-kanak di desaku waktu itu yang menjadi sumber nafkah untukku.
Jangan tanya berapa besar yang diterima tapi berapa besar jasa yang dilakukan
untuk menjadi anak didiknya lebih baik terutama anaknya sendiri. Profesi ibu
yang mulia membuatku tertarik meneruskan perjuangannya. Disitu aku mulai
bertekad untuk menjadi seorang pendidik. Sehingga aku lebih giat untuk mementingkan
pendidikanku.
Aku di terima di Madrasah Tsanawiyah Negeri di kotaku. Sekolah
yang bisa dikatakan banyak sekali aturan-aturan yang berlaku. Mengajariku lebih
disiplin dari sebelumnya. Ternyata banyak teman yang memiliki nasib seperti
aku, orangtua mereka juga bercerai. Sehingga mulai saat itu aku tidak begitu
bersedih tentang kehidupanku. Setiap hari masuk pagi, diberi tugas yang tidak
hanya satu. Aku sangat tidak suka apabila terlambat sekolah, apalagi terlambat
mengerjakan tugas dari guru. Prestasiku tidak begitu buruk disini. Meskipun
tidak pernah juara satu dikelas tetapi lima besarpun aku sudah bersyukur karena
itu hasil dari jerih payahku sendiri.
Sejak sekolah disini, banyak teman yang heran mengapa aku diberi nama yang
tidak biasa ini yaitu “Beauty”. Malam harinya, saat aku dan ibu di dalam kamar,
aku menanyakan hal ini, “Bu, siapa yang memberi nama ini padaku?”. “Ayahmu,”
jawab ibu singkat. Aku menyesal mengapa aku bertanya hal ini, aku takut ibu
sedih karena mengenang ayah. “Dulu itu, ayahmu yang memberi nama ini karena
ayahmu mengajar bahasa Inggris di salah satu SMP di Kabupaten. Tetapi saat kamu
masih satu tahun, kami berpisah. Dan 1 tahun setelah bercerai, ayahmu menikah
lagi.” Itulah penjelasan dari ibu. Sebenarnya sejak ibu memberi tahu bahwa yang
memberi nama untukku adalah ayah, aku tidak ingin menceritakan semuanya pada
teman ataupun lainnya karena aku tidak ingin sedih. Tetapi ada teman yang bertanya,
akhirnya aku memberitahunya juga, untuk menghargai rasa ingin tahunya.
Aku melanjutkan belajarku di Madrasah Aliyah Negeri di
kotaku juga. Awal aku sekolah disini, Ibu menikah lagi, aku tidak mencegahnya
karena aku pun percaya ibu bisa lebih bahagia dan aku juga bisa fokus pada
pendidikan untuk membahagiakan ibuku juga. Sekolah yang memiliki aturan tidak
jauh berbeda dengan sekolahku sebelumnya. Aku mengikuti organisasi Palang Merah
Remaja. Berorganisasi tidak membuat prestasiku menurun. Selama di sekolah ini
aku termasuk anak yang masuk dalam lima besar di kelasku. Banyak yang mengatakan
bahwa masa SMA adalah masa yang paling indah. Tetapi banyak juga teman-teman
yang mengatakan bahwa masa SMA adalah masa suram. Mereka beranggapan demikian
karena mereka merasa bahwa di sekolah ini banyak sekali aturan, banyak sekali
tugas, dan pulangnya pun kadang hingga sore. Apalagi jika mengikuti organisasi,
pasti sering pulang sore hari. Banyaknya tugas dan kegiatan di sekolah sehingga
aku lebih banyak berinteraksi dengan teman daripada dengan keluarga dirumah.
Hari Minggu pun yang harusnya ada waktu untuk keluarga, justru organisasi yang
ku ikuti mengadakan acara seperti penempuhan bedge, atribut, dan anjangsana-anjangsini.
Tidak terasa tinggal beberapa bulan lagi akan
kuliah. Namun rasa itu pun tak berubah, hampa jika harus mengenang sesosok ayah.
18 tahun aku hidup tanpa mengetahui bagaimana wajah ayah. Dan aku pun terbiasa dengan keadaan yang demikian. Namun suatu ketika, pada jam pelajaran Bahasa
Indonesia. Siswa diberi tugas untuk membuat puisi. Namun sebelum itu, siswa
disuruh untuk memejamkan mata dan guru bercerita tentang sesosok ayah. “Ayah yang selalu membanting tulang seharian
hanya untuk menafkahi kita. Ayah yang selalu menjemput dan setia menunggu
anaknya tanpa mengeluh sedikitpun. Ayah yang selalu sayang kepada kita. Buatlah
puisi untuk ayah dan berikan kepada ayah agar beliau mengerti,” itulah sebagian kecil yang dikatakan guruku.
Seketika, aku tak bisa berbuat apa-apa selain meneteskan air mata. Meskipun
siswa sudah disuruh untuk membuka mata dan memulai menulis puisi, tak bisa ku menahan air mata. Dengan
perasaan yang sangat terpukul, bukan karena pengorbanan ayah. Namun karena tak
ada satupun bayangan ayah difikiranku. Aku sangat bingung, untuk siapakah puisi ini akan dibuat. Dengan
pelan-pelan aku mencoba menuliskan kata-kata. Dan akhirnya satu puisi telah
selesai kubuat tanpa memikirkan lagi untuk siapakah puisi ini.
Malam telah tiba, setelah belajar aku masuk ke kamar dan membuka
buku harian. Aku mulai menulis semua apa yang ku alami sehari. Dan aku juga menuliskan beberapa kata untuk ayah. “Ayah.. Apa kabar Ayah disana? Apakah Ayah
bahagia? aku sudah 18 tahun. Ingatkah engkau padaku? Dan apakah engkau juga mengingat
ibu? Kekasihmu dulu. Apa yang sebenarnya ada difikiranmu,Ayah. Semudah itukah
kau pergi. Setega itukah kau meninggalkanku disaat aku masih belum mengetahui apapun. Meskipun aku tidak mengetahui jelas wajahmu dan aku mengetahui wajahmu hanya dalam foto. Meskipun
aku tidak pernah merasakan kasih
sayangmu. Namun, engkau tetaplah ayahku. Aku tak mengetahui apakah suatu saat aku akan dipertemukan
denganmu, ataukah justru sebaliknya. Semoga engkau bahagia bersama keluarga barumu, Ayah.” Itulah kata yang kutulis. Rasa kantuk menghampiriku. Dan akhirnya aku tertidur pulas dikamar kesayanganku.
Tidak lama kemudian, aku diterima di Sekolah Tinggi Agama
Islam Negeri. Selain belajar di kampus aku pun juga memikirkan kehidupan ekonomi.
Aku mulai mengadakan bimbingan belajar dirumah. Selain mengamalkan apa yang aku
dapat selama menimba ilmu, aku juga berusaha meringankan beban orangtuaku,
terutama Ibu. Karena aku teringat pada perkataan ibuku saat aku masih belum
kuliah, “Nak, jangan hanya pintar dalam nilai saja. Tetapi dalam kehidupan
juga.” Selama ini, aku berusaha menjadi anak yang lebih berguna dan
membahagiakan kedua orangtuaku kelak. Dan mulai sekarang akan lebih memperbaiki
diri untuk lebih baik dari sebelumnya. Ayah, ingatkah engkau padaku? Inilah
malaikat kecilmu dulu. Tidakkah engkau ingin mengetahui keadaanku sekarang.
Disini aku dan ibu baik-baik saja. Aku akan tetap mendoakanmu, Ayah. Semoga
engkau bahagia.







0 komentar:
Posting Komentar