Pada bulan Januari lahirlah seorang
gadis mungil dari keluarga yang penuh kasih sayang. Kehadirannya sangat
didambakan karena merupakan anak pertama bagi ayah ibunya dan cucu pertama di
keluarga besar tersebut.Semenjak gadis itu lahir, kebahagiaan dalam keluarga
ini semakin tumbuh.
Setahun kemudian, terjadi sesuatu
yang sangat tak diharapkan. Dengan terpaksa ayah ibunya berpisah. Kini gadis itu
tinggal bersama ibu serta keluarga besarnya. Gadis mungil yang belum tau
apa-apa harus menjalani hidupnya tanpa ditemani ayahnya. Wajah ayahnya pun dia
belum tau jelas, mungkin hanya gambaran pudar bagai awan yang tertutup mendung.
Namun hal itu bukanlah sesuatu yang
menghalangi kebahagiaan gadis ini. Karena keluarga yang selama ini ada di
dekatnya sangat sayang padanya. Ibu, kakek, nenek, paman, tante itulah yang
selalu ada didekatnya. Canda tawa serta tangisan gadis mungil ini setiap hari
didengar seperti lagu yang setiap hari melantunkan syair ke telinga mereka.
7 tahun telah terlewati, gadis ini
tumbuh besar dan kini menginjak sekolah dasar. Hingga saat itu dia tak
menyadari, tidak pernah ada sesosok ayah bersamanya. Dan tak ada satupun
pikiran di otaknya tentang ayah. Bagaimanakah rasa mempunyai ayah pun dia tak
tau. Yang dia rasakan selama ini adalah kebahagiaan bersama keluarga yang
selalu ada untuknya. Pernah ada rasa minder dalam dirinya, karena banyak
temannya saat di kelas menceritakan keluarganya termasuk menceritakan seorang
ayah. Namun apalah daya, dia hanya bisa terdiam dan mendengar cerita itu.
Tak terasa kini ia duduk di Sekolah
Menengah Atas dan tinggal beberapa bulan lagi ia akan kuliah. Namun rasa itu
pun tak berubah, hampa jika harus mengenang sesosok ayah. 16 tahun ia hidup
tanpa mengetahui bagaimana wajah ayahnya. Dan ia pun terbiasa dengan keadaan
yang demikian.
Suatu ketika, pada jam pelajaran Bahasa Indonesia. Siswa diberi
tugas untuk membuat puisi. Namun sebelum itu, siswa disuruh untuk memejamkan
mata dan guru bercerita tentang sesosok ayah. Ayah yang selalu membanting tulang
seharian hanya untuk menafkahi kita. Ayah yang selalu menjemput dan setia
menunggu anaknya tanpa mengeluh sedikitpun. Ayah yang selalu sayang kepada
kita. Buatlah puisi untuk ayah dan berikan kepadaayah agar beliau mengerti.
Itulah sebagian kecil yang dikatakan guru.
Seketika, gadis ini tak bisa berbuat apa-apa selain meneteskan air
mata. Meskipun siswa sudah disuruh untuk membuka mata dan memulai menulis
puisi, tak bisa ia menahan air matanya. Dengan perasaan yang sangat terpukul,
bukan karena pengorbanan ayah. Namun karena tak ada satupun bayangan ayah
difikirannya. Gadis ini sangat bingung, untuk siapakah puisi ini akan dibuat. Dengan
pelan-pelan ia mencoba menuliskan kata-kata. Dan akhirnya satu puisi telah
selesai dibuatnya tanpa memikirkan lagi untuk siapakah puisi ini.
Malam telah tiba, setelah belajar ia masuk ke kamarnya dan membuka
buku diary. Dimulainya menulis semua apa yang ia alami sehari. Dan ia juga
menuliskan seuntai kata untuk ayah. Ayah.. Apa kabar Ayah disana? Apakah
Ayah bahagia? aku sudah 17 tahun. Ingatkah engkau padaku? Dan apakah engkau
juga mengingat ibu? Kekasihmu dulu. Apa yang sebenarnya ada difikiranmu,Ayah..
Semudah itukah kau pergi. Setega itukah kau meninggalkanku disaat aku masih tak
tau apa-apa. Meskipun aku tak tau jelas wajahmu dan aku tau hanya dalam foto. Meskipun
aku tak pernah merasakan kasih sayangmu. Namun, engkau tetaplah Ayahku….Aku tak tau apakah suatu saat aku akan dipertemukan denganmu,
ataukah malah sebaliknya. Semoga engkau bahagia bersama keluarga barumu, Ayah. Itulah kata yang ditulisnya. Rasa kantuk menghampirinya. Dan
akhirnya ia tertidur pulas dikamar kesayangannya.

.jpg)





0 komentar:
Posting Komentar