Pukul 4
sore akhirnya aku tiba juga dirumah. Setelah seharian berada di sekolah, rasa
lelahpun menghampiri. Aku menuju ke kamar kesayangan untuk melepaskan rasa
lelah ini dan langsung deh berbaring diatas tempat tidur.
“Ra, rumahnya masih kotor, cepat disapu.” suruh Ibu.
Baru beberapa detik istirahat, dan kini sudah ada panggilan.
“Iya, Bu.”
Jawabku singkat.
Yaaah,,, seperti biasa, setiap pulang sekolah pasti
pekerjaan rumah belum kelar. Dan aku harus membereskannya, karena itu sudah
tugasku.
Satu jam
kemudian, aku selesai mandi dan menuju kamar untuk menyisir rambut. Kulihat di
kamar sudah ada Ibu duduk diatas tempat tidurku. Ku menuju depan cermin dan
mengambil sisir. Tanpa salam pembuka ataupun kalimat pembukaan.Ibu bercerita langsung
menuju ke inti.
“Kemarin ayah mimpi buruk tentang ayahmu”, kata Ibu.
“Ayah kandung?” tanyaku.
“Iya.”
jawab Ibu.
“Mimpi apa?” tanyaku (hatiku penuh tanda tanya, mengapa
bisa ayah tiriku mimpi tentang ayah kandungku).
“Tentang hal buruk, aku tidak tahu pasti , jangan-jangan
ada apa-apa dengan ayahmu.” kata
Ibu.
“Oh.”
jawabku tanpa berpikir panjang dan saat itu tak ada yang aku khawatirkan
tentangnya.
“Tapi ayah berfirasat kalau ayahmu sedang sakit atau
mungkin meninggal.”
jelas Ibu.
“Mungkin hanya perasaan ayah saja, Bu.” kataku agar Ibu tenang.
“Do’akan saja semoga ayahmu baik-baik saja.” terang Ibu.
“Iya.”
singkat banget jawabku.
Dan tanpa kalimat penutup Ibu keluar kamar, namun bedanya
ini ada salam penutup.
“Wassalamualaikum.”
salam dari Ibu.
“Waalaikumsalam.”
jawabku.
Ibu menutup pintu kamarku dari luar dan kini aku sendirian
di kamar.
Sambil
menunggu maghrib aku menyiapkan buku untuk esok hari. Tanpa kusadari aku
memikirkan sesosok yang telah lama tak ku pikirkan.Kini fikiran itu telah
mengganggu lagi. AYAH?. Fikiran negatif berdatangan. Apa yang sebenarnya
terjadi?. Kalau benar ayah sakit, mungkinkah dia mengingatku?.Kalau memang
meninggal, mengapa tak ada firasat apa-apa pada diriku?. Atau memang tak ada
perasaan antara aku dan Ayah. Oh tidak, tidak, tidak, kenapa aku malah
berfikiran negatif seperti ini. Aku ini gimana sih, tadi saat Ibu menceritakan
ini, tak ada sedikit rasa khawatirku pada ayah. Dalam fikiranku sesosok itu
tidaklah terpengaruh pada diriku. Dan tadi aku melarang Ibu untuk berfikiran
negatif, tetapi mengapa malah aku yang sekarang berfikiran demikian. Tiba-tiba
adzan maghrib telah menyadarkanku dari fikiran-fikiran itu.
Jam
dinding menunjukkan pukul 7 malam, kini saatnya belajar. Tapi.............
mimpi itu lagi. Mengapa mimpi itu membuatku selalu berfikir dan terus berfikir.
Ku kira hanya sebentar saja aku memikirkannya. Mengapa sampai mengganggu
belajarku pula. Dan aku semakin bertanya-tanya, jika itu suatu tanda-tanda
tetapi mengapa ayah tiriku yang mimpi. Kenapa tidak aku?. Aku yang anak
kandungnya malah tidak ada perasaan apapun. Memang sih kedua ayahku ini saling
kenal, karena mereka teman sekampus. Jadi mungkin saja bisa bermimpi tentang
ini. Fikiran itu selalu membayangi.
Tak terasa sudah jam 9 malam. Waaah, masak
sih waktu belajarku habis hanya gara-gara mikir mimpi. Diambil positifnya aja deh, yang mimpi itu ayah tiriku karena hanya
sebatas mimpi. Dan ayahku sekarang baik-baik saja. Dia telah bahagia dengan
keluarga barunya. Dan begitu pun aku telah bahagia dengan keluarga baruku. Biarlah
ini berjalan apa adanya. Sudah ya mimpiiiii.... jangan ganggu aku lagi. Sudah
malam, aku tidur dulu.






0 komentar:
Posting Komentar