Langit terlihat mendung sejak dini hari, matahari pun tak
ingin menampakkan diri. Rumah begitu sepi, hanya aku duduk di ruang tamu seorang
diri. Aku pun tak tahu kemana orang-orang pergi. Jarang- jarang terjadi seperti
ini.
Tidak ada kegiatan yang aku lakukan siang ini. Janji ke
teman juga tidak ada. Bingung apa yang dilakukan sekarang. Sedikit terbesit
diotakku untuk merapikan rak buku di kamarku. Kamar kesayangan yang tak begitu
luas namun aku selalu nyaman disana. Dan untuk siang ini akan aku isi dengan
merapikan rak di tempat itu.
Aku menuju ke kamar dan membuka rak buku yang ada di
dalamnya. Tak hanya buku milikku yang ada di rak itu, buku milik ibuku pun ada
disitu. Saat aku mulai merapikan buku satu per satu tiba-tiba ku temukan lipatan
kertas yang menarik perhatianku. Terlihat begitu beda diantara kertas-kertas
yang lain. Berwarna putih tetapi lebih kusam dari kertas putih yang biasanya.
Kertas yang terlihat berumur hampir belasan tahun. Entah milik siapa, yang
jelas aku tak merasa memilikinya.
Ku buka perlahan lipatan kertas itu. Kulihat tahun
suratnya, yang tertulis 1997. Sungguh sangat lama sekali surat ini dibuat. Tahun
saat aku masih berumur 1 tahun.
Sebuah surat yang tertulis nama dipojok kanan atas. Nama yang tak asing bagiku.
Nama seseorang yang dekat denganku bahkan sangat dekat sekali. Ibu. Ya... nama
ibuku yang ditulis disitu. Mataku langsung tertuju pada tulisan pojok kanan
bawah yang tertulis nama pengirimnya. Sangat kaget ketika aku membaca tulisan
yang menunjukkan sebuah nama itu. Nama yang juga tak asing bagiku. Nama yang
aku kenal. Namun
pemilik nama itu sudah lama tak ku jumpai hingga sekarang. Yaitu nama ayahku
sendiri. Ternyata ini surat yang dikirim ayah untuk ibu. So sweet ya...
Hanya bahagia yang kurasakan saat itu karena mengerti
orang tuaku saling
berkirim surat. Padahal saat itu belum kubaca isinya. Belum tahu isinya
sebahagia yang aku rasakan saat ini ataupun malah sebaliknya. Dan akhirnya
kumulai untuk membaca isinya. Mulai dari salam pembuka dan seterusnya.
Beberapa saat kemudian, air mataku menetes untuk yang
pertama kali. Dan diikuti oleh air mataku yang kedua, ketiga, dan seterusnya.
Dan akhirnya akupun menangis tak terhenti. Tak dapat ku menahan air mata ini. Seketika
kututup dan kukunci pintu kamarku agar tak satu orangpun tahu.
Perasaanku salah. Kukira surat ini berisi kebahagiaan
mereka berdua. Ternyata sebuah cerita kepedihan. Sungguh menyedihkan dua hati
yang harus terpisahkan karena suatu alasan. Dan mereka harus mengorbankan
perasaan untuk kebaikan semuanya. Aku sangat sedih ketika membaca isi yang
didalamnya menjelaskan kalau ayah masih memikirkanku disaat mereka harus sibuk
mengurus surat panggilan dari pengadilan.
Ayah,, Ibu,, sebenarnya aku tak pernah ingin tau tentang
ini. Tetapi mengapa aku bisa menemukan tulisan kusam ini yang membuatku
teringat lagi pada ayah. Mungkin memang sudah waktunya aku mengerti tentang
ini. Tetapi jika dulu saat kalian berpisah, ayah masih memikirkanku. Mengapa
sampai sekarang tak sekalipun engkau mencoba untuk menemuiku. Apa ayah sengaja
agar aku tak pernah bertemu ayah secara langsung atau memang sampai sekarang
ayah tidak tahu dimana aku dan ibu tinggal. Kami tetap disini ayah, di rumah
keluarga ibu. Jika sampai akhir hayatku tak juga bertemu, mungkin memang ini
yang ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa.
Tak terasa sudah
sangat banyak air mata yang menetes dipipi, segera kuusap. Ku berdiri di depan
cermin dan berusaha menenangkan diri karena semua ini tak bisa kembali lagi.
Setelah hatiku tenang lalu aku meneruskan untuk merapikan rakku kembali.







0 komentar:
Posting Komentar